PALU – Dalam rangkaian Reses Masa Persidangan III Tahun 2025, Anggota DPRD Kota Palu, Mutmainah Korona, menggagas kolaborasi dengan Komunitas Banyu Bening Yogyakarta untuk memperkenalkan konsep Sekolah Air Hujan dan program pemberdayaan masyarakat bertajuk Teras Bermakna.
Menariknya, kegiatan reses kali ini diselenggarakan secara tatap muka dan daring, di mana turut hadir Ibu Ning (Sri Wahyuningsih) — pendiri Komunitas Banyu Bening dan pelopor Sekolah Air Hujan yang aktif mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan air hujan di tingkat nasional.
Air Hujan Sebagai Sumber Kemandirian dan KesehatanDalam dialog daring, Ibu Ning menjelaskan bahwa pemanfaatan air hujan bukan hanya solusi ekologis, tetapi juga berdampak positif bagi kesehatan.
“Air hujan punya pH netral dan jika dikelola dengan baik dapat menjadi sumber air sehat sekaligus solusi mengurangi krisis air,” ujarnya.
Mutmainah mengungkapkan, gagasan Sekolah Air Hujan akan mulai diuji coba di dua kelurahan wilayah utara, dengan pemasangan dua tandon besar sebagai penampung air hujan masyarakat.
“Saya ingin konsep ini diterapkan di Tawaili dan Palu Utara, agar warga memiliki kemandirian air dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada air tanah,” jelasnya.
Program ini diharapkan mampu mendukung ketahanan air dan pangan sekaligus memperkuat kesadaran ekologis masyarakat.
Selain Sekolah Air Hujan, Mutmainah juga memperkenalkan Teras Bermakna ruang edukasi sosial yang menampung berbagai kegiatan masyarakat, terutama perempuan dan anak muda.
Program ini meliputi: Pojok baca dan nonton bersama, majelis Kajian Cahaya Bermakna, akademi kewirausahaan dan anak muda, sekolah air hujan & green action, kelas kepemimpinan perempuan, pelatihan pengelolaan keuangan dan wirausaha produktif.
“Kita ingin perempuan dan anak muda punya ruang belajar dan keberanian untuk berdaya. Termasuk menjaga warisan lokal seperti kuliner tradisional,” ujar Mutmainah.
Melalui Green Action, warga juga diajak mengelola limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi, seperti tepung dari ampas kelapa, briket dari daun kering, dan pengharum alami dari sisa kopi.
“Langkah kecil seperti ini punya dampak besar untuk lingkungan dan ekonomi rumah tangga,” ujarnya.***
SUMBER : tadulako.id

