PALU -Anggota DPRD Kota Palu dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV, Moh Haekal Ishak, melaksanakan kegiatan reses masa sidang Caturwulan III Tahun 2025 di Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat, Selasa (21/10/2025). Kegiatan tersebut menjadi ajang bagi warga untuk menyampaikan berbagai persoalan lingkungan dan infrastruktur yang dihadapi masyarakat setempat.
Dalam pertemuan itu, Haekal yang juga anggota Komisi I DPRD Kota Palu menekankan pentingnya kegiatan reses sebagai wadah resmi bagi masyarakat menyampaikan aspirasi secara langsung kepada wakilnya di parlemen.
“Kami di Komisi I membidangi persoalan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena itu, reses ini kami manfaatkan untuk mendengar dan menampung masukan dari warga, agar dapat kami teruskan kepada pemerintah,” ujar Haekal membuka dialog.
Ia berharap warga aktif berdiskusi dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbagi pandangan terkait kondisi wilayah mereka.
Salah satu warga, Muhammad Karama, yang berdomisili di Jalan Mangga I, menyoroti persoalan drainase di sekitar Jalan Sis Aljufri yang tak kunjung tertangani dengan baik meski sudah berlangsung lebih dari satu dekade.
“Setiap hujan turun, air selalu meluap dan menggenangi jalan dari arah lampu merah sampai ke bawah, sekitar Pokok Peging. Sudah lebih 10 tahun tidak ada penanganan tuntas,” keluhnya.
Menanggapi hal itu, Haekal mengakui bahwa persoalan drainase menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Kota Palu. Ia menyebut, isu tersebut sudah berulang kali disuarakan di rapat komisi maupun paripurna DPRD.
“Masalah drainase bukan hanya di Palu Barat, tapi hampir di seluruh kecamatan. Kami sudah sampaikan kepada pemerintah, bahkan saya pernah memanggil pihak PU saat reses sebelumnya untuk meninjau langsung. Namun kendalanya, banyak titik yang memerlukan pembongkaran total dan membutuhkan anggaran besar,” jelasnya.
Ia juga menyinggung soal keterbatasan anggaran daerah yang berdampak pada tertundanya sejumlah program infrastruktur.
“Efisiensi anggaran membuat banyak program tertunda. Tapi kami akan terus dorong agar drainase jadi prioritas dibanding proyek-proyek yang sifatnya estetika, seperti taman dan patung,” tegasnya.
Selain drainase, warga juga menyoroti masalah kebersihan dan penumpukan sampah yang menyebabkan saluran air tersumbat, terutama di sekitar belakang Puskesmas Siranindi.
“Kalau banjir, rumput dan lumpur sudah menumpuk sampai satu meter. Airnya tidak mengalir karena got penuh lumpur dan sampah dari pasar. Kami di hilir jadi penampung semuanya,” ujar salah satu warga yang turut hadir.
Haekal menyatakan, masalah kebersihan memang perlu penegakan aturan yang tegas agar masyarakat tidak sembarangan membuang sampah. Ia mengapresiasi langkah warga yang secara swadaya menjaga kebersihan lingkungan dan menegur pelanggar di sekitar mereka.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana terbuka itu juga diisi sesi tanya jawab antara warga dan wakil rakyat. Beberapa masukan lain yang muncul antara lain soal keterbatasan petugas lapangan, komunikasi antarwarga dan pemerintah, serta harapan agar penggunaan media sosial dimanfaatkan untuk memperbarui informasi program lingkungan.
Menutup kegiatan, Haekal mengajak masyarakat untuk terus menjaga komunikasi dan berkolaborasi dengan pemerintah dalam mencari solusi atas persoalan yang ada.
“Reses ini bukan sekadar formalitas, tapi ruang untuk memperkuat hubungan antara warga dan wakilnya. Saya ingin tetap dekat dengan masyarakat karena saya lahir dan besar di sini. Mari kita rawat Palu Barat bersama,” pungkasnya.***
SUMBER : kareba.id

